Catatan Harian Affandi Ungkap Sejarah Museum Sejak 1953

oleh -
museum

NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Museum Affandi di Yogyakarta tidak hanya menyimpan lukisan karya sang maestro. Museum ini juga menyimpan catatan harian dan sketsa yang merekam perjalanan hidup serta gagasan Affandi, termasuk desain bangunan yang dibuat sejak 1953.

Fakta tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Memori Kolektif Bangsa (MKB) Tokoh Maestro Lukis Affandi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman di Sajian Kembang Turi, Rabu (21/10/2026).

Forum ini menghimpun informasi tentang perjalanan hidup, karya, dan arsip Affandi sebagai bahan pengusulan dirinya menjadi bagian dari Memori Kolektif Bangsa.

Kepala Museum Affandi, Novida Abbas, mengungkapkan, Affandi meninggalkan catatan harian yang hingga kini masih tersimpan di museum. Catatan tersebut menjadi sumber penting untuk menelusuri pemikiran dan perjalanan sang maestro.

”Meskipun bangsa kita malas mencatat, ada untungnya juga bahwa Pak Affandi itu agak suka mencatat,” ungkap Novida.

Salah satu catatan menarik berkaitan dengan desain rumah panggung di bawah loteng yang kini digunakan sebagai Kafe Loteng. Menurut Novida, Affandi sudah menggambar desain bangunan tersebut pada 1953. Bentuk dalam sketsa itu sama persis dengan bangunan yang kemudian diwujudkan.

Pembangunan Museum Affandi sendiri dimulai pada 1962. Langkah tersebut dilakukan setelah Affandi melunasi pembayaran sebidang tanah di tepian Sungai Gajah Wong yang dibelinya secara mencicil.

Selain menyimpan jejak pemikiran dan proses kreatif, Museum Affandi juga menjadi tempat peristirahatan terakhir sang maestro.

Novida menjelaskan, Affandi pernah berpesan agar dirinya dimakamkan di dekat karya-karyanya. Setelah wafat pada 23 Mei 1990, Affandi dimakamkan di antara Galeri I dan Galeri II di kompleks museum.

Istrinya, Maryati Affandi, kemudian dimakamkan di sebelahnya setahun setelah kepergian sang maestro.

Affandi lahir di Cirebon pada 18 Mei 1907. Sepanjang perjalanan seninya, gaya lukisnya berkembang dari realisme menuju ekspresionisme. Ia juga berkontribusi dalam kelompok Lima Bandung serta berbagai kegiatan seni dan budaya pada masa perjuangan kemerdekaan.

Catatan harian, sketsa, dan arsip tersebut menjadi bagian penting dari sejarah seni rupa Indonesia. Dokumen-dokumen itu tidak hanya merekam perjalanan seorang seniman, tetapi juga memperlihatkan bagaimana gagasan kreatif diwujudkan menjadi karya dan bangunan yang bertahan hingga sekarang.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, berharap FGD tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia mendorong forum itu menghasilkan rekomendasi dan informasi yang dapat digunakan dalam proses pengusulan Memori Kolektif Bangsa.

”Kita berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi dan informasi yang menjadi dasar dalam proses pengusulan memori kolektif bangsa,” kata Abu Bakar.

Dukungan juga disampaikan anggota Komisi A DPRD Kabupaten Sleman, Wahyudi Kurniawan. Ia menekankan pentingnya perlindungan arsip agar dokumen bersejarah milik Affandi tidak hilang atau rusak.

”Arsip-arsip jangan sampai hilang, kemudian arsip-arsip ini bisa dilindungi dengan baik,” tegasnya.

Melalui FGD tersebut, Pemkab Sleman berharap jejak kehidupan dan karya Affandi dapat terdokumentasi dengan baik serta menjadi bagian dari warisan sejarah nasional yang bisa dipelajari generasi mendatang. (Jat)

No More Posts Available.

No more pages to load.