NASIONALNEWS.ID, PASAMAN BARAT – Ada doa yang dipanjatkan sekali, lalu terkabul. Namun ada pula doa yang harus menunggu begitu lama, hingga air mata menjadi bagian dari perjalanan menantinya.
Itulah yang dirasakan Iswan Lubis dan istrinya, Suparti, pasangan asal Pasaman Barat yang sejak lama memendam satu impian: menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Bagi keduanya, umrah bukan sekadar perjalanan. Ada kerinduan yang selama ini hanya bisa mereka titipkan melalui doa. Ada pula harapan yang terus dipelihara, meski mereka tidak pernah tahu kapan kesempatan itu benar-benar datang.
Kini, penantian tersebut mulai menemukan ujungnya.
Bulan lalu, kepada NasionalNews.id, Iswan menyampaikan kabar yang membuat dirinya sulit menahan haru. Doa yang selama ini dipanjatkan bersama Suparti akhirnya mendapat jawaban.
Dengan suara bergetar, Iswan mengungkapkan bahwa dirinya dan sang istri berencana berangkat ke Tanah Suci pada bulan ini, jika tidak ada kendala.
“Alhamdulillah, doa kami berdua, saya dan istri saya Suparti, akhirnya dikabulkan juga. Kalau tidak ada halangan, insyaAllah kami akan berangkat umrah pada bulan ini,” ungkap Iswan.
Di sampingnya, Suparti turut mendampingi. Kebahagiaan pasangan tersebut terasa begitu nyata.
Iswan bahkan tak kuasa membendung air mata. Butiran air mata membasahi pipinya, seolah menjadi penanda bahwa kabar tersebut bukan sekadar berita tentang keberangkatan, melainkan jawaban atas penantian panjang yang telah mereka jalani.
Bagi Iswan, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan menuju tempat suci.
Ia membayangkan ketenangan yang akan dirasakan ketika akhirnya berada di Tanah Suci. Sebuah ketenangan yang, menurutnya, sulit dibandingkan dengan kenikmatan duniawi.
“Keberadaan di Tanah Suci itu sulit dibayangkan sebelum kita benar-benar ke sana. Salah satu yang paling saya rasakan adalah ketenangan hati. Ketenangan itu tidak bisa dibandingkan dengan kesenangan dunia lainnya,” tuturnya.
Kalimat itu seakan menggambarkan apa yang selama ini dicari Iswan dan Suparti. Bukan kemewahan perjalanan, melainkan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa dan bayangan.
Kini, langkah mereka menuju Tanah Suci tinggal menunggu waktu.
Bagi Iswan dan Suparti, perjalanan tersebut menjadi momentum untuk mensyukuri sebuah doa yang akhirnya dikabulkan. Sebuah pengingat bahwa harapan terkadang membutuhkan kesabaran panjang sebelum menemukan waktunya.
Semoga perjalanan ibadah Iswan Lubis dan Suparti menuju Tanah Suci diberikan kelancaran, kesehatan, keselamatan, serta kekuatan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
Semoga pula doa panjang yang akhirnya membawa mereka ke Tanah Suci berujung pada satu anugerah: umrah yang mabrur. (Zan)






