Laptop Bekas hingga Kardus, Warga Kayen Raup Rupiah

oleh -
pilah1

NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Sampah yang selama ini menumpuk di rumah ternyata bisa menghasilkan uang. Hal itu dibuktikan warga RW 45 Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman.

Melalui Bank Sampah Menur’45, warga ramai-ramai memilah kardus, botol plastik, besi, aluminium hingga barang elektronik bekas. Bahkan, laptop rusak pun ikut masuk dalam tumpukan sampah yang dipilah.

Kegiatan berlangsung di Joglo Suratno, Minggu (6/9/2026), mulai pukul 08.00 WIB.

Sebanyak 39 warga turun tangan membantu memilah, mengelompokkan, mengemas hingga menimbang sampah. Mereka terdiri dari pengurus dan anggota bank sampah, Ketua RT, Ketua RW hingga warga sekitar yang ikut bergotong royong.

Ketua Bank Sampah Menur’45, Relis Gusneta, mengatakan kegiatan pemilahan kali ini cukup ramai karena sempat terhenti hampir tiga bulan.

Biasanya, pemilahan sampah dilakukan rutin setiap bulan. Namun, berbagai kegiatan warga, termasuk rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan kerja bakti, membuat kegiatan tersebut sempat tertunda.

“Total pengurus dan anggota Bank Sampah Menur’45 saat ini sekitar 80 orang yang berasal dari RT 07 dan RT 08. Hari ini ada 39 orang yang ikut membantu memilah sampah,” kata Relis.

Karena cukup lama tidak dilakukan pemilahan, tabungan sampah warga kali ini menumpuk cukup banyak.

laptop

Dari hasil penimbangan, sedikitnya sekitar 840 kilogram berbagai jenis sampah berhasil dikumpulkan. Sampah tersebut kemudian dijual kepada pengepul dan menghasilkan uang sebesar Rp1.265.800.

Uang hasil penjualan masuk ke kas Bank Sampah Menur’45 dan digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan warga.

Sejak pagi, warga membawa tabungan sampah yang selama ini mereka kumpulkan di rumah masing-masing.

Jenis sampahnya bermacam-macam. Ada kardus, duplek, kertas, botol plastik, gelas plastik, kaleng, aluminium, besi, beling hingga berbagai jenis plastik.

Tak hanya itu, beberapa barang rumah tangga dan elektronik bekas juga ikut dikumpulkan. Di antaranya laptop atau notebook rusak, setrika, wajan, panci, penanak nasi hingga helm bekas.

Barang-barang tersebut tidak langsung dibuang begitu saja. Warga memilahnya berdasarkan jenis bahan agar bagian yang masih bernilai bisa dijual atau dimanfaatkan kembali.

Untuk warga yang memiliki tabungan sampah dalam jumlah banyak, Bank Sampah Menur’45 juga menyediakan bantuan penjemputan.

Giyatno membantu mengangkut sampah menggunakan kendaraan roda tiga. Sementara Jindarto menggunakan mobil pikap untuk mengambil sampah dari rumah-rumah warga.

Dari catatan penimbangan, beberapa jenis sampah terkumpul dalam jumlah cukup besar.

Duplek mencapai sekitar 183,5 kilogram, kardus 149,5 kilogram, bodong 80,5 kilogram, beling 63,5 kilogram, kerasan 47,5 kilogram dan kaleng 42,5 kilogram.

Selain itu, ada plastik HD sebanyak 39 kilogram, material campuran 38,5 kilogram dan Besi B sekitar 35 kilogram.

Warga juga mengumpulkan galon, aluminium, gelas plastik, tutup botol, Besi A, buram, arsip serta berbagai material lainnya.

Relis mengatakan Bank Sampah Menur’45 tidak hanya mengejar hasil penjualan sampah. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan warga agar lebih peduli terhadap lingkungan.

“Manfaat Bank Sampah Menur’45 adalah agar lingkungan lebih nyaman, membuat sampah menjadi rupiah, dan kas digunakan untuk kegiatan bersama,” ujarnya.

Saat ini, Bank Sampah Menur’45 juga terus mengenalkan gerakan “Sampahmu Tanggung Jawabmu”.

Gerakan tersebut mengajak setiap keluarga mulai bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari rumah sendiri.

“Saya berharap masyarakat sadar terhadap pengelolaan sampahnya sendiri. Saat ini kami membuat program ‘Sampahmu Tanggung Jawabmu’,” kata Relis.

Menurutnya, pengelolaan sampah sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah yang masih bisa digunakan, dijual atau didaur ulang harus dipisahkan sejak awal.

Kesadaran warga juga terlihat dari adanya empat Rumah Sedekah Sampah Botol Plastik yang ditempatkan di sejumlah titik di RW 45.

Wadah berbentuk keranjang besi beratap itu digunakan warga untuk menyumbangkan botol dan gelas plastik bekas.

Dalam beberapa minggu, tempat tersebut bisa penuh. Pengurus kemudian mengosongkannya dan memindahkan sampah ke dalam karung besar untuk dipilah.

Salah seorang anggota Bank Sampah Menur’45, Ristianingsih, mengaku keberadaan bank sampah membuat warga mulai terbiasa memilah sampah.

“Dengan adanya bank sampah, warga lebih bijak memilah sampah. Apalagi sekarang disediakan rumah atau kotak sampah di beberapa sudut RW,” katanya.

Sampah yang sudah dipisahkan kemudian dikemas berdasarkan jenisnya agar lebih mudah saat ditimbang.

Sekitar pukul 13.00 WIB, Warto, pengepul yang menjadi mitra Bank Sampah Menur’45, datang mengambil hasil pemilahan warga.

Penimbangan dilakukan bersama pengurus bank sampah, termasuk Relis Gusneta dan Emy Purwaningsih.

Warto juga memberikan masukan agar pemilahan pada kegiatan berikutnya bisa dilakukan lebih rapi dan bersih.

Pemilahan yang baik dinilai akan memudahkan proses klasifikasi, penimbangan hingga menentukan harga setiap jenis sampah.

Gerakan seperti yang dilakukan warga Kayen menjadi contoh bahwa sampah rumah tangga sebenarnya masih punya nilai.

Jika dipilah sejak dari rumah, banyak material yang bisa digunakan kembali, didaur ulang atau dijual.

Dari kegiatan sederhana itu, warga Kayen menunjukkan bahwa mengatasi persoalan sampah bisa dimulai dari rumah sendiri.

Sampah yang dipilah tidak hanya membuat lingkungan lebih bersih. Kardus, botol plastik, besi hingga laptop bekas juga bisa berubah menjadi uang.

Lebih dari itu, kegiatan Bank Sampah Menur’45 menumbuhkan kesadaran, kepedulian terhadap lingkungan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat. (Jat)

No More Posts Available.

No more pages to load.