NASIONALNEWS.ID, TERNATE – Rempah menjadi benang merah yang mempertemukan sejarah dan kebudayaan Yogyakarta dengan Ternate. Persilangan budaya dua kota pusaka itu dihadirkan Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Pameran Lawatan Nusaraya “Wastuprana” dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026 di Kota Ternate.
Pameran yang berlangsung pada 26–30 Agustus 2026 tersebut mengangkat keterkaitan sejarah dan silang budaya Yogyakarta-Ternate melalui jejak rempah, warisan budaya, serta kehidupan masyarakat.
Pameran “Wastuprana” dibuka secara resmi pada Kamis (27/8) pukul 15.30–18.30 WIT di Keiko Café, Benteng Oranje–Sanggar Jawa, Kota Ternate. Pembukaan dilakukan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dan dihadiri Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wali Kota Ternate, serta perwakilan kota-kota anggota JKPI.
Pembukaan pameran juga dirangkaikan dengan peluncuran buku Tapak Tangan Kota Pusaka, Jejak Komitmen, dan Strategi Pelestarian Budaya Nusantara serta tur kuratorial pameran.
Rempah Jadi Benang Merah
Tajuk “Wastuprana” dibangun dari dua gagasan utama. “Wastu” merujuk pada benda, bentuk, dan simbol kebudayaan yang nyata, seperti wastra, arsitektur, dan jabatan. Sementara “Prana” dimaknai sebagai napas kehidupan dan energi pergerakan maritim yang dibawa Jalur Rempah.
Mulai konsep tersebut, Yogyakarta dan Ternate dipertemukan dalam cerita tentang rempah yang hidup dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Di Yogyakarta, rempah ditampilkan melalui pemanfaatannya dalam gastronomi dan praktik medis tradisional. Sementara di Ternate, rempah dihadirkan sebagai bagian penting dari kebudayaan dan praktik estetika yang memandang perawatan tubuh secara holistik.
Pameran juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai rempah terus berkembang mengikuti kehidupan masa kini. Konsep holistic wellness, spa terapeutik, hingga produk kosmetika berbasis bahan alam menjadi bagian dari perkembangan tradisi tersebut.
Sejumlah benda yang dihadirkan antara lain rempah, batu penghalus rempah untuk bedak dingin, serta berbagai produk turunan rempah dari Ternate.
Menghubungkan Dua Kota Kesultanan
Narasi rempah menjadi pintu masuk untuk melihat hubungan sejarah yang lebih luas antara Yogyakarta dan Ternate. Pameran menampilkan kedua kota sebagai kota pusaka berbasis kesultanan yang hingga kini masih hidup.
Persamaan warisan budaya dalam bentuk heritage, adat dan tradisi, gastronomi, serta tata kota kesultanan turut diangkat. Demikian pula pengaruh Barat pada masa kolonial, penyebaran Islam dari Jawa ke Maluku Utara, Jalur Rempah, wastra Yogyakarta dan Ternate, hingga keberadaan masyarakat Jawa dalam struktur sosial dan pemerintahan di Ternate.
Dengan demikian, rempah tidak sekadar ditempatkan sebagai bagian dari sejarah perdagangan. Rempah ditampilkan sebagai bagian dari pengetahuan, tradisi, kesehatan, estetika, gastronomi, dan kehidupan masyarakat.
Benang merah tersebut memperlihatkan bagaimana perjalanan manusia, pengetahuan, dan kebudayaan saling terhubung serta terus berkembang lintas ruang dan generasi.
Lawatan Nusaraya Lintas Kota Pusaka
Lawatan Nusaraya merupakan program Pemerintah Kota Yogyakarta yang membawa narasi sejarah dan kebudayaan Yogyakarta untuk dipertemukan dengan kekayaan pusaka kota-kota lain di Indonesia.
Program tersebut sebelumnya hadir di Palembang pada 2022, Denpasar dan Kota Tua Semarang pada 2023, Banjarmasin pada 2024, serta Kota Baru Yogyakarta pada 2025. Jejak perjalanan tersebut menjadi bagian dari narasi pembuka Pameran “Wastuprana” tahun ini.
Selain pameran, momentum tersebut juga digunakan untuk mendokumentasikan perjalanan jejaring kota pusaka melalui peluncuran buku Tapak Tangan Kota Pusaka. Buku itu memuat catatan, refleksi, dan dokumentasi penyelenggaraan Rakernas XI JKPI 2025 di Kota Yogyakarta.
Melalui “Wastuprana” dan dokumentasi tersebut, Lawatan Nusaraya menjadi ruang perjumpaan sejarah, pengalaman, dan pengetahuan antarkota pusaka.
Pameran ini diharapkan memperkaya pemahaman mengenai keterhubungan sejarah dan kebudayaan Nusantara sekaligus memperkuat hubungan antarkota pusaka melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pelestarian budaya. (Ridar)






