NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA
Dalam tradisi tasawuf, thariqah adalah jalan spiritual yang ditempuh oleh seorang salik (pejalan ruhani) untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tujuan utamanya bukan hanya memperbanyak ibadah lahiriah, tetapi juga menyucikan hati dari penyakit-penyakit batin.
Hal itu diungkapkan KH Muhammad Labib selaku Mudir id Wustho Daerah Istimewa Yogyakarta dalam sambutan dihadapan ribuan jamaah yang menghadiri Manaqib Kubro, Istighotsah Temu Mursid ke VIII yang berlangsung dihalaman Masjid Sultan Agung Babadan Baru Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta, Minggu (12/4/2026).

Dijelaskannya, Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) sendiri berdiri di Tegalrejo Magelang pada 10 Oktober 1957 sebagai wadah tarekat-tarekat mu’tabarah (sahih) di bawah naungan para kiai NU yang diprakarsai oleh KH Muslih Abdurrohman, KH Nawawi, KH Masruhan, dan KH Khudlori.organisasi ini resmi menjadi badan otonom (Banom) NU melalui Muktamar ke-26 di Semarang tahun 1979.
Penetapan Banom NU (1979-1980): Pada Muktamar NU ke-26, diputuskan JATMAN menjadi Banom NU untuk memastikan langkah tarekat searah dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.
“Organisasi yang biasa kita singkat jatman sendiri berfokus pada pembinaan spiritual (tasawuf) dan pengamalan zikir, serta mengokohkan ukhuwah Islamiyah dan kebangsaan,” lanjutnya.

Dalam memasyarakan tentang keberadaan JATMAN di Daerah Istimewa Yogyakarta usai acara Munaqib dilanjutkan dengan Musyawarah Besar JATMAN yang dihadiri semua pengurus 4 Kabupatèn Kota yang berlangsung di Aula Madrasah ibtidaiyah Sultan Agung Yogyakarta.

Bupati Sleman Harda Kiswaja menyambut baik tradisi Manaqib Kubro di Yogyakarta, khususnya yang diselenggarakan oleh Idaroh Wustho Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) DIY, merupakan kegiatan istighotsah, pembacaan manaqib (biografi ulama), dan temu mursyid untuk memperkuat spiritualitas.
“Tradisi manaqib yang mengakar ditengah masyarakat yang bertujuan mempererat ukhuwah, mendoakan keselamatan bangsa, dan memperdalam akhlak serta ketentraman batin masyarakat” ujar Harda Kiswaja.
Sementara tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah) dengan menyucikan jiwa , membersihkan hati dari penyakit batin, dan menghiasinya dengan akhlak mulia (tahzibul akhlak).
“Tasawuf bertujuan mencapai derajat ihsan—beribadah seolah melihat merasa diawasi-Nya—serta meraih kebahagiaan,” katanya.
Puncak acara Manaqib yang dihadiri ribuan jamaah diisi ceramah singkat yang disampaikan KH Achmad Fahrruzi Bin Muhammad Zabidi dari kota Selangor Malaysia.
Dalam ceramah singkatnya meminta agar hadirin yang hadir memasyarakat tareqah yang dimulai dari kehidupan ditengah keluarga. “Mari bersama sama kita masyakatkan tareqah dalam kehidupan berbangsa dimulai dari tengah keluarga kita masing” katanya diantara tausyiah singkatnya. (Ridar)











