NASIONALNEWS.ID, YOGYAKARTA — Monumen Yogya Kembali (Monjali) terus berinovasi untuk menarik minat wisatawan, terutama generasi muda. Tak hanya menawarkan wisata sejarah, Monjali kini menyiapkan kegiatan outbound yang memadukan permainan dengan edukasi perjuangan bangsa.
Program baru itu diberi nama Monjali Little Explorer Kidd Outbound, yang menyasar pelajar PAUD, TK, hingga sekolah dasar.
Kabag Operasional Monjali Nanang Dwinarto mengatakan, kegiatan tersebut dikemas dalam dua pilihan, yakni outbound basah dan outbound kering.
“Kegiatan outbound ini kami bagi dalam dua pilihan, basah dan kering. Kami akan memanfaatkan kolam dangkal untuk outbound basah, sedangkan outbound kering berupa kegiatan edukasi tandu Panglima Besar Sudirman,” kata Nanang kepada NasionalNews.id, Rabu (8/10).
Untuk outbound basah, sebagian kolam besar berbentuk melingkar yang mengelilingi bangunan utama Monjali atau dikenal sebagai jagang, akan dimanfaatkan sebagai arena permainan. Salah satunya lomba perahu.
Sementara outbound kering mengajak anak-anak mengenal kisah perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman melalui permainan edukatif tandu.
Menurut Nanang, kisah perjalanan gerilya Sudirman menyimpan nilai penting yang relevan untuk dikenalkan kepada anak-anak sejak dini.
Dalam kondisi sakit, Sudirman bersama dokter pribadi dan para ajudannya menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki dan ditandu. Rute gerilya itu melintasi Yogyakarta, Wonogiri, Pacitan, Kediri hingga kawasan Gunung Wilis dan Gunung Lawu, dengan jarak mencapai ratusan kilometer selama sekitar tujuh bulan.
“Di situ ada nilai-nilai antara komandan dan anak buah yang sangat harmonis, saling menjaga, termasuk sifat gotong royong yang harus diwariskan kepada generasi bangsa ini. Jangan sampai punah,” ujar Nanang.
Melalui konsep tersebut, anak-anak tidak hanya diajak bermain, tetapi juga mengenal semangat perjuangan, kebersamaan, kepemimpinan dan gotong royong melalui pengalaman langsung.
Monjali Tak Hanya Mengandalkan Sejarah
Inovasi outbound ini menjadi bagian dari upaya Monjali memperluas daya tarik museum di tengah perubahan tren wisata.
Nanang mengakui jumlah kunjungan ke Monjali mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan mulai terasa sejak pandemi Covid-19 dan kemudian dipengaruhi sejumlah faktor lain.
“Selain pandemi, beberapa faktor penurunan jumlah pengunjung termasuk faktor politik, kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah daerah dan faktor ekonomi,” katanya.
Meski demikian, Nanang menyebut Monjali masih termasuk dalam 10 besar destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan di Yogyakarta.
Karena itu, pengelola terus mencari cara agar Monjali tidak hanya dikenal sebagai tempat menyimpan sejarah perjuangan bangsa.
Monjali juga memanfaatkan berbagai platform digital seperti TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan situs web untuk mengenalkan sejarah dengan cara yang lebih interaktif.
Sejumlah terobosan rekreatif juga mulai dikembangkan. Salah satunya menghidupkan kembali arena lomba burung berkicau di Jogja Bird Arena setelah vakum sekitar 15 tahun.
Pada 5 April 2026, gantangan burung di kompleks Monjali kembali digunakan dengan konsep yang lebih modern dan kolaboratif.
Selain itu, Monjali kini juga memiliki spot mancing yang menjadi pilihan rekreasi baru bagi masyarakat, khususnya penghobi memancing.
Dengan berbagai inovasi tersebut, Monjali berusaha menjaga keseimbangan antara wisata sejarah, edukasi dan rekreasi, sehingga tetap relevan bagi pengunjung dari berbagai kelompok usia. (Ridar)








