NASIONALNEWS.ID, SLEMAN — Kelompok Jaga Warga di Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, didorong semakin aktif menghadapi dinamika sosial kawasan perkotaan.
Satpol PP Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membekali mereka dengan metode penyelesaian masalah berbasis studi kasus dan rencana aksi.
Pembinaan tersebut berlangsung di Ruang Wacana Loka, Kantor Kalurahan Condongcatur, Rabu (5/8/2026), dan diikuti 10 Kelompok Jaga Warga dari Kalurahan Condongcatur dan Caturtunggal.
Dari Condongcatur, peserta berasal dari Gejayan, Dero, Pondok, Sanggrahan, dan Gempol.
Sedangkan dari Caturtunggal meliputi Samirono, Santren, Tempel, Ngentak, dan Kledokan.
Kegiatan menghadirkan Penelaah Teknis Kebijakan Satpol PP DIY Suhardi, S.IP. sebagai narasumber.
Turut hadir Kabid Linmas Satpol PP Kabupaten Sleman R. Rahmad Mustajab, S.IP., M.Si., dan Plt. Lurah Condongcatur Budi Arto, S.IP., M.AP.
Suhardi mengatakan Jaga Warga memiliki posisi penting karena masyarakat setempat menjadi pihak yang paling memahami karakter dan persoalan lingkungannya.
“Yang paling memahami wilayah adalah mereka yang tinggal di dalamnya. Prinsip perlindungan, ketertiban, keamanan, dan harmoni sejatinya lahir dari akar komunitas—itulah esensi Jaga Warga,” tegasnya.
Dalam pembinaan kali ini, peserta tidak sekadar mendapatkan materi teoritis. Satpol PP DIY menerapkan metode mentoring dengan pendekatan studi kasus.
Peserta diajak mengidentifikasi persoalan yang benar-benar terjadi di wilayah masing-masing, menyusun langkah penanganan, kemudian membuat rencana aksi yang dapat diterapkan dan dievaluasi.
Menurut Suhardi, metode tersebut diperlukan agar pembinaan menghasilkan peningkatan kapasitas yang dapat diukur dan memberikan dampak nyata di masyarakat.
Jaga Warga sendiri merupakan lembaga kemasyarakatan yang dibentuk atas prakarsa masyarakat di tingkat padukuhan, kampung, atau RW dan ditetapkan pemerintah kalurahan.
Lembaga tersebut menjadi mitra pemerintah dalam menjaga keamanan, ketenteraman, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat.
Selain membantu penyelesaian konflik sosial, Jaga Warga berfungsi sebagai mediator, penyampai aspirasi masyarakat, motivator partisipasi warga, serta penggerak terciptanya lingkungan yang aman dan harmonis.
Kabid Linmas Satpol PP Kabupaten Sleman R. Rahmad Mustajab menilai karakteristik Depok sebagai kawasan urban membuat mobilitas penduduk tinggi dan persoalan sosial lebih beragam.
Kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi antara Jaga Warga, pemerintah kalurahan, aparat keamanan, serta lembaga kemasyarakatan lainnya.
“Situasi di wilayah Condongcatur dan secara umum di Kapanewon Depok memiliki dinamika permasalahan yang sangat kompleks. Karena itu Jaga Warga diharapkan mampu bersinergi dengan seluruh lembaga yang ada,” ujar Rahmad.
Ia mengingatkan Jaga Warga tidak perlu mengambil alih tugas lembaga lain. Sebaliknya, setiap lembaga harus saling melengkapi sesuai fungsi dan kewenangannya.
“Jaga Warga jangan sampai overload dengan lembaga lain, tetapi harus saling melengkapi sesuai tugas dan kewenangannya,” katanya.
Rahmad menyebut Pemkab Sleman juga menyiapkan penguatan kelembagaan melalui pembinaan dan pendampingan yang lebih berkelanjutan.
Pada 2027, direncanakan tersedia alokasi anggaran dari Komisi A DPRD Kabupaten Sleman untuk mendukung pembinaan dan pendampingan Jaga Warga.
Karena itu, ia meminta kelompok Jaga Warga mulai menyusun rencana aksi dan kebutuhan program secara rinci agar dukungan tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran.
Suhardi menyebut penguatan Jaga Warga di tingkat lokal merupakan bagian dari jaringan sosial yang telah berkembang luas di DIY.
Hingga 2024, Pemerintah Daerah DIY telah membentuk 4.677 Kelompok Jaga Warga yang mencakup seluruh padukuhan di DIY. Jumlah anggotanya mencapai 106.570 orang.
Menurut Suhardi, keberadaan ribuan kelompok tersebut merupakan modal sosial yang dapat digunakan masyarakat untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan lingkungan.
Kekuatan Jaga Warga juga tidak terlepas dari nilai budaya Yogyakarta, seperti guyub rukun, tepa selira, rembug warga, dan semangat Hamemayu Hayuning Bawana.
Nilai tersebut mendorong penyelesaian berbagai persoalan melalui komunikasi, gotong royong, musyawarah, dan pendekatan kekeluargaan.
Suhardi juga mengambil pelajaran dari gempa Kobe, Jepang, pada 1995. Dalam situasi bencana tersebut, masyarakat sekitar menjadi pihak yang dapat memberikan pertolongan awal sebelum bantuan resmi datang.
Menurutnya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan komunitas sangat penting dalam merespons persoalan di lingkungannya.
Pembinaan di Condongcatur diharapkan menghasilkan rencana aksi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Jaga Warga juga didorong memperkuat koordinasi dengan pemerintah kalurahan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Satlinmas, dan lembaga kemasyarakatan lainnya.
- Dengan penguatan tersebut, Jaga Warga diharapkan mampu menjadi salah satu pilar ketahanan sosial masyarakat perkotaan, khususnya dalam menjaga Depok tetap aman, tertib, harmonis, dan tangguh menghadapi dinamika sosial. (Jat)






