NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Pemerintah Kabupaten Sleman terus menguatkan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui Program Beasiswa Sleman Pintar.
Program yang menyasar mahasiswa dari keluarga kurang mampu ini menjadi salah satu strategi jangka panjang pemerintah daerah untuk memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan tinggi.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam kegiatan sosialisasi Beasiswa Sleman Pintar yang berlangsung di Ruang Seminar Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Minggu (5/7).
Kegiatan dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, Wakil Bupati Sleman, pimpinan UTY, calon mahasiswa penerima beasiswa, serta para orang tua dan wali.
Beasiswa Sleman Pintar sepenuhnya dibiayai melalui optimalisasi APBD Kabupaten Sleman yang bersumber dari penerimaan pajak daerah, retribusi, pengelolaan aset, hingga dana insentif pemerintah pusat.
Dana tersebut dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan pendidikan bagi warga yang membutuhkan.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengingatkan, kesempatan memperoleh beasiswa merupakan amanah yang harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.
Ia meminta para orang tua turut mengawasi dan memberikan motivasi agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu.
“Tolong anak-anak kita terus didampingi dan diberi semangat belajar. Kesempatan ini tidak dimiliki semua orang. Pemerintah bersama DPRD akan terus berupaya menjaga keberlangsungan program ini. Karena itu, saya berharap para mahasiswa memiliki komitmen kuat untuk belajar dan berprestasi,” ujar Harda.
Dalam kesempatan itu, Harda juga menceritakan pengalaman hidupnya yang pernah tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah, melainkan harus dijadikan pemicu agar mampu meraih masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa selaku Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) menjelaskan, Pemkab Sleman menerapkan tiga strategi dalam menekan angka kemiskinan, yakni perlindungan sosial bagi kelompok rentan, peningkatan keterampilan masyarakat usia produktif, serta memperluas akses pendidikan tinggi melalui Program Beasiswa Sleman Pintar.
Ia menegaskan, program “Satu Keluarga Miskin Satu Sarjana” diharapkan mampu menghentikan siklus kemiskinan yang selama ini diwariskan antargenerasi.
“Pemkab Sleman menanggung biaya semester mahasiswa sehingga keluarga tidak lagi terbebani biaya kuliah. Harapan kami sederhana, mahasiswa fokus belajar, berprestasi, dan dapat lulus tepat waktu sehingga siap memasuki dunia kerja,” katanya.
Keunggulan program di UTY juga terletak pada sistem pembelajaran berbasis magang industri.
Mahasiswa memperoleh pengalaman kerja secara langsung selama masa kuliah sehingga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, keluarga, dan sektor industri tersebut dinilai berhasil menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih efektif.
Model ini bahkan mendapat perhatian dari pemerintah pusat, termasuk melalui kunjungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang mempelajari implementasi program magang dalam Beasiswa Sleman Pintar.
Rangkaian sosialisasi ditutup dengan penayangan video serta testimoni para alumni penerima Beasiswa Sleman Pintar yang berhasil mengukir prestasi di berbagai bidang.
Kisah mereka menjadi inspirasi bahwa pendidikan mampu menjadi jalan keluar dari keterbatasan ekonomi sekaligus membuka peluang masa depan yang lebih baik. (Jat)







