Pabrik Misterius di Karangklesem: Tak Beridentitas, Limbahnya Jadi Keluhan Warga Bertahun-tahun

oleh -
oleh
img 20260603 wa0030

NASIONALNEWS.ID PURWOKERTO – Sebuah pabrik makanan ringan yang telah beroperasi puluhan tahun di wilayah Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, menjadi sorotan warga. Selain dikeluhkan karena limbah yang menimbulkan bau menyengat, pabrik tersebut juga dipertanyakan identitasnya lantaran tidak memasang papan nama perusahaan di lokasi usaha.

Kondisi itu memunculkan kesan sebagai “pabrik siluman”. Padahal, berdasarkan informasi yang dihimpun, pabrik tersebut telah beroperasi sekitar 40 tahun dan mempekerjakan puluhan hingga ratusan pekerja.

Keluhan utama warga menyangkut limbah cair yang dibuang melalui saluran yang melintasi permukiman RT 02 RW 08 Kelurahan Karangklesem. Saat musim kemarau, ketika debit air menurun dan aliran selokan tidak lancar, limbah diduga mengendap dan menimbulkan bau menyengat.

“Kalau musim kemarau, limbah mengendap di sepanjang saluran. Baunya sangat menyengat dan mengganggu aktivitas warga,” ujar seorang warga kepada NasionalNews, Selasa (2/6/2026).

Warga menyebut aroma tidak sedap muncul hampir setiap hari, terutama pada waktu-waktu tertentu, mulai dini hari saat masyarakat menjalankan ibadah, siang hari ketika warga beristirahat, hingga sore menjelang berakhirnya aktivitas produksi pabrik.

Selain bau, warga juga mengaku kerap melihat busa dan endapan yang diduga berasal dari limbah produksi makanan ringan. Kondisi tersebut dinilai telah berlangsung cukup lama tanpa penyelesaian yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Di tengah keluhan tersebut, keberadaan pabrik tanpa papan nama turut menjadi perhatian. Saat wartawan mendatangi lokasi, tidak ditemukan identitas perusahaan yang terpasang di area pabrik. Padahal skala usaha yang beroperasi di kawasan itu tergolong besar dan telah berlangsung selama puluhan tahun.

Menanggapi hal itu, pimpinan CV, Hendrik, mengakui papan nama perusahaan saat ini memang tidak terpasang. Menurutnya, papan nama pernah dipasang namun sudah tidak ada. Sementara pihak mandor menyebut identitas perusahaan sebelumnya pernah ditulis di dinding pabrik, namun diduga telah luntur.

Terkait dugaan pencemaran lingkungan, Hendrik membantah bahwa perusahaan mengabaikan pengelolaan limbah. Ia menegaskan pabrik telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan pernah mendapatkan pemeriksaan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Menurut Hendrik, hasil pemeriksaan dan uji laboratorium menunjukkan pengelolaan limbah perusahaan telah memenuhi ketentuan yang berlaku. Ia juga mengklaim perusahaan telah menginvestasikan dana ratusan juta rupiah untuk pembangunan sistem pengolahan limbah sebagai bentuk komitmen terhadap lingkungan.

“Kalau memang ada keberatan dari masyarakat, kami siap membuka data dan hasil pengujian yang kami miliki,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Namun demikian, saat diminta menunjukkan dokumen perizinan maupun data pendukung yang disebutkan, pihak perusahaan tidak memperlihatkannya kepada wartawan.

Perbedaan antara keluhan warga dan klaim perusahaan kini menimbulkan pertanyaan yang memerlukan penjelasan dari pihak berwenang. Terlebih, warga mengaku masih merasakan dampak bau limbah hingga saat ini, sementara perusahaan menyatakan pengelolaan limbahnya telah memenuhi standar.

NasionalNews selanjutnya akan meminta klarifikasi kepada DLH Kabupaten Banyumas guna memastikan apakah hasil pemeriksaan, apresiasi, serta klaim kepatuhan pengelolaan limbah yang disampaikan pihak perusahaan sesuai dengan data dan fakta yang dimiliki pemerintah.

Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan, persoalan ini tidak lagi sekadar soal bau limbah. Yang dipertanyakan masyarakat adalah transparansi sebuah industri yang telah puluhan tahun beroperasi di tengah permukiman, namun tidak memiliki identitas perusahaan yang terlihat jelas, sementara dampak aktivitas produksinya masih menjadi sumber keluhan warga.

(Widhiantoro)

No More Posts Available.

No more pages to load.