Pengusaha Lokal Sebut Lelang di Kota Tangsel Sarat Kongkalikong

oleh -
lelang di kota tangsel

NASIONALNEWS.ID TANGERANG SELATAN – Pengusaha lokal mengeluhkan kegiatan lelang yang dilaksanakan Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tidak sesuai dengan aturan pelelangan. Pemenang tender Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Tangsel diduga sarat kongkalingkong.

Salah satu pengusaha asal Tangsel, Alek L Iskandar menyebut, banyak pengusaha lokal yang enggan mengikuti lelang yang dilaksanakan ULP Kota Tangsel karena kegiatan tersebut diduga sudah diatur siapa yang akan jadi pemenangnya.

“Dalam aturan ULP ada aturannya, yang administrasinya bagus harganya terendah itulah yang bisa jadi pemenang. Kalau di Tangsel itu ga begitu, bisa dibukalah di LPSE hanya bawaannya saja yang bisa menang, padahal persyaratan sudah sesuai dengan dokumen lelang. Satu contoh nilai kegiatan 1000 kita nawar 850, yang dimenangkan yang 950, secara aturankan ga boleh begitu,” ungkap Alek kepada Nasional News melalui telepon selulernya, Kamis (22/4/2021).

Alasan kekalahan dalam lelang yang dianggap adanya kekurangan oleh panitia, menurut Alek kerap dibuat-buat dengan membuat alasan kekurangan dalam dokumen lelang, meski para pemborong sudah melengkapi dokumen yang diminta dalam dokumen lelang.

“Di situ alasannya anu-anu padahal tidak ada, bisa dibuktikan juga itu, katanya KAK, sedangkan KAK itu ada di dalam dokumen, itulah kenapa dulu sempat didatangi KPK begitulah itu tipenya,” jelasnya.

Alek menuding, semua kegiatan lelang sudah ditunjuk siapa pemilik paket pekerjaan tersebut.

“Misalkan si A ini, ini paketnya dan pokja hanya menjalankan perintah saja, berarti kan karena perintah bukan karena undang undang,” tuturnya.

Menurutnya, yang mengatur ploting kegiatan lelang adalah para petinggi Tangsel, tanpa menyebutkan secara pasti orang yang dimaksud, salah satunya garis bandung.

“Kalaupun kita desak ULP siapa petingi itu, pasti jawabannya seperti yang pengusaha-pengusaha lokal banyak tahu, tanya juga yang lainnya dan jawabannya sama yang pengusaha lokal tau,”

Alek menyebutkan, yang menjadi pemenang dalam lelang tersebut, banyak perusahaan bawaan yang berasal dari luar Kota Tangsel.

“Saat ini yang dimenangkan itu perusahaan-perusahaan bawaan semua, ada yang dari Bandung, Jakarta, dari Jawa. Jangan-jangan jauh-jauh pekerjaan rumah sakit yang 90 miliar perusahaan bawaan semua yang bawa itu,” tukasnya.

Alek berharap, adanya penegakan aturan lelang yang sesuai dengan undang-undang pengadaan barang dan jasa, sesuai dengan Peraturan Presiden (Pepres) agar mengutamakan pengusaha lokal.

“Saya sih berharap pada ULP sesuai aturan saja, apalagi ada kepres yang mengatur agar mengutamakan pengusaha lokal, sementara saat ini untuk kami ini ga ada kegiatan,” keluhnya.

Alek prihatin, hak sanggah yang dimiliki peserta lelang kerap tidak digubris panitia, dengan alasan sudah menjadi perintah.

“Contoh, kemarin saya nawar yang sekolahan ciater 1,7 miliar, itu yang terendah kalah semua, itu sudah disanggah tapi sanggahan itu tidak dikonfirmasi ke kita, harapannya sanggahan yang disampaikan ke ULP kami bisa dipanggil untuk memberikan bukti, karena kalau kami daftarkan kepengadilan bisa 50 juta,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Alek menghawatirkan pengusaha lokal hanya akan menjadi penonton lelang di Kota Tangsel.

“Kalau begitu bisa jadi penonton, begitulah kira-kira,” tandasnya. (Yuyu)

No More Posts Available.

No more pages to load.