Tata Kelola Sawit Belum Maksimal, Kemenko Pangan Nilai Perlu Penguatan Berkelanjutan

oleh -
img 20260423 wa0569

NASIONALNEWS.ID, Jakarta – Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan menyebutkan Indonesia berkontribusi sebesar 58% bagi produksi minyak sawit global.

Hal ini dibarengi dengan volume
mencapai 46-51,6 juta ton sepanjang 2024-2025.

Produksinya berasal dari tutupan sawit seluas 16,83 juta ha.

Dari jumlah ini sebesar 40% disumbang lahan sawit petani swadaya.

Dengan begitu Kemenko Bidang Pangan mengandeng WWF Indonesia mempertemukan lintas sektor dalam ‘Dialog Nasional Kemandirian Pangan 2026’.

Langkah ini untuk merumuskan langkah konkret transformasi tata kelola sawit yang belum berjalan maksimal di lapangan.

Hal lainnya memperbaiki jumlah produksi dan memastikan jalan yang ditempuh sesuai prinsip keberlanjutan dengan mengutamakan praktik-praktik pertanian yang baik dan ramah lingkungan.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kemenko Bidang Pangan, Widiastuti mengatakan kelapa sawit saat merupakan komoditi strategis yang mendukung kemandirian pangan dan energi.

Namun, tantangan menembus pasar global, menghadapi isu-isu lingkungan, deforestasi dan keberlanjutan.

“Transformasi perbaikan tata kelola perlu dilakukan dengan fokus pada optimalisasi lahan sawit yang ada (intensifikasi) dengan opsi perluasan (ekstensifikasi), kemudian inklusivitas petani swadaya (smallholders) serta penguatan standar keberlanjutan nasional,” katanya.

Pernyataan ini disampaikannya saat membuka forum Dialog Nasional Kemandirian Pangan 2026 pada Kamis (23/4/2026).

Kenaikan produktivitas petani swadaya bisa dilakukan dengan menyelesaikan hambatan legalitas lahan, akses bibit unggul dan pupuk serta akses dan skema pembiayaan secara mudah.

“Indonesia memiliki posisi strategis sebagai produsen utama minyak sawit dunia,” ujarnya.

“Oleh karena itu, penguatan tata kelola yang inklusif, transparan, dan akuntabel menjadi kunci untuk menjaga daya saing global sekaligus memastikan kesejahteraan pekebun dan ketahanan pangan nasional tak terkecuali kesehatan ekosistem.”

Widiastuti meneruskan Indonesia mempunyai sumber daya.

“Yang kita butuhkan sekarang adalah tata kelola yang benar-benar inklusif dan sistem yang mampu menjawab standar global tanpa mengorbankan petani kecil di dalamnya,” tuturnya.

Chief Executive Officer (CEO) Yayasan WWF Indonesia, Aditya Bayunanda menambahkan daya saing sawit Indonesia dan ketahanan pangan harus sejalan dengan kelestarian alam.

“Melalui pendampingan dan intensifikasi yang tepat bagi petani swadaya, kita dapat meningkatkan produktivitas tanpa perlu membuka lahan baru,” ucapnya.

“Langkah ini adalah kunci untuk menghentikan penurunan kualitas lingkungan hidup dan memastikan pelestarian keanekaragaman hayati kita tetap terjaga, selaras dengan misi WWF Indonesia membangun masa depan di mana manusia hidup selaras dengan alam.”

Dengan penguatan kapasitas dan praktik budidaya yang lebih baik, ujar Aditya Bayunanda, standar global tidak lagi menjadi tekanan, tapi peluang.

“Di situlah peningkatan produksi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan seiring,” ucapnya.

“Keberlanjutan ini berarti jangka panjang, mengutamakan perbaikan manajemen internal, seperti peremajaan tanaman dan optimalisasi nutrisi.”

Forum Dialog Nasional Kemandirian Pangan 2026 berlangsung selama dua sesi.

Hal ini membicarakan kerangka kebijakan nasional hingga tantangan yang dihadapi petani di lapangan.

Hasilnya diharapkan bukan sekadar rekomendasi biasa, tapi komitmen konkret lintas kementerian dan sektor terkait.

Hal ini untuk mempercepat transformasi sawit agar lebih optimal.

Dialog Nasional Kemandirian Pangan 2026 merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam mendorong transformasi tata kelola sawit yang berkelanjutan dan inklusif.

Langkahnya selaras dengan arah pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029 dan RPJPN 2025–2045.

Forum ini diharapkan menjadi titik tolak langkah-langkah konkret, khususnya dalam memperkuat pendampingan dan intensifikasi bagi petani swadaya.

Tujuannya, meningkatkan produktivitas.

Dengan demikian, manfaat transformasi tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga oleh petani swadaya sebagai fondasi utama sektor tersebut.

No More Posts Available.

No more pages to load.