NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Menghadapi musim penghujan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mulai memperkuat berbagai langkah antisipasi. Sedikitnya 65 titik saluran irigasi telah menjadi sasaran pembersihan untuk mengurangi risiko banjir dan genangan.
Selain membenahi saluran air, Pemkab Sleman juga menyiapkan perbaikan jalan serta melakukan pengecekan infrastruktur permukiman. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem selama masa peralihan musim.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPKP Sleman, Haryadi Widodo, ST, MT, menjelaskan, pembersihan saluran irigasi telah dilakukan di tiga wilayah kerja UPTD PSDA.
“Total ada 65 titik lokasi yang menjadi sasaran antisipasi daerah rawan banjir tahun 2026,” jelas Haryadi, Kamis (5/11) di Pendopo Rumah Dinas Bupati.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 21 titik berada di wilayah barat, 24 titik di wilayah tengah, dan 20 titik di wilayah timur.
Pekerjaan difokuskan pada pembersihan tumpukan sampah dan sedimentasi yang menghambat aliran air. Namun, pelaksanaannya masih menemukan sejumlah kendala.
Di antaranya saluran tertutup sampah dan sedimentasi, gorong-gorong yang menyempit maupun amblas, hingga saluran yang terhambat kabel optik dan pipa PDAM. Bahkan, di beberapa lokasi, rumpun bambu turut menyebabkan penyempitan saluran air.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Sleman, Suparman, ST, MT, menyampaikan, pihaknya juga telah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi kerusakan jalan akibat musim penghujan.
Pada 2026, pemeliharaan rutin jalan di Kabupaten Sleman ditargetkan mencapai 450 kilometer. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pemeliharaan rutin jalan kami lakukan sepanjang tahun 2026. Fokusnya pada penanganan preventif dan kondisi darurat, dengan keselamatan pengguna jalan sebagai tujuan utama,” ungkap Suparman.
Berdasarkan SK Bupati Tahun 2025, Kabupaten Sleman memiliki 371 ruas jalan kabupaten dengan panjang keseluruhan 733,67 kilometer. Hingga saat ini, pemeliharaan rutin telah dilakukan pada 233 ruas jalan dan akan terus bertambah sampai akhir tahun.
Untuk mempercepat penanganan, Bidang Bina Marga menyiapkan sembilan tim pemeliharaan badan jalan atau aspal, tiga tim pemeliharaan bahu jalan, tiga tim pemeliharaan talud jalan, serta tiga tim pemeliharaan gorong-gorong dan jembatan.
Material perbaikan juga diproyeksikan mencukupi kebutuhan hingga akhir Desember 2026. Penanganan kerusakan jalan dilakukan menggunakan aspal panas (hotmix) maupun aspal dingin jenis aspal buton yang bisa langsung diaplikasikan.
Pada minggu pertama November 2026, pekerjaan difokuskan pada penataan bahu jalan, pembersihan saluran tepi jalan dan gorong-gorong, serta penutupan celah atau retakan jalan.
Adapun Kepala Bidang Cipta Karya DPUPKP Sleman, Rahmadi, S.T., M.T., menyampaikan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang dapat berdampak pada kawasan permukiman.
Menurutnya, ancaman yang perlu diwaspadai tidak hanya banjir dan genangan, tetapi juga kerusakan talud, bangunan, sistem sanitasi, hingga jaringan pelayanan air minum.
“Saluran drainase yang tersumbat sampah dan sedimentasi bisa menyebabkan limpasan air hujan masuk ke kawasan permukiman. Akibatnya, genangan dapat mengganggu akses jalan dan aktivitas masyarakat,” papar Rahmadi.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Bidang Cipta Karya memprioritaskan inventarisasi drainase lingkungan yang rawan menimbulkan genangan, pembersihan saluran dan bangunan pelengkapnya, serta pemeriksaan talud dan dinding penahan tanah.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap kondisi bangunan gedung pemerintah, terutama bagian atap dan instalasi listrik. Selain itu, fungsi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal dan sarana sanitasi turut menjadi perhatian.
Langkah antisipasi ini merupakan tindak lanjut arahan Bupati Sleman saat memimpin Apel Besar Dinas PUPKP pada 8 Oktober 2026. Saat itu, bupati meminta seluruh bidang berkoordinasi dan melakukan persiapan sejak dini menghadapi potensi kerusakan jalan serta genangan air selama musim penghujan November hingga Desember 2026.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Ancaman yang perlu diperhatikan meliputi hujan lebat disertai petir, angin kencang, pohon tumbang, banjir, tanah longsor, hingga peningkatan debit sungai yang berhulu di kawasan Gunung Merapi.
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana, petani, pekerja lapangan, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan perlu mendapat perhatian khusus.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkab Sleman berharap risiko banjir, genangan, longsor, dan kerusakan infrastruktur selama musim penghujan bisa ditekan.
Kesiapsiagaan pemerintah juga perlu diimbangi peran masyarakat, terutama dengan menjaga kebersihan saluran air dan segera melaporkan jika menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan. (Jat)











