NASIONALNEWS.ID, Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan banyak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengalami keterbatasan daya tampung.
Selain itu belum memiliki Ruang Praktik Siswa (RPS) yang memadai. Padahal, ruangannya dinilai penting untuk mendukung pembelajaran vokasional yang optimal melalui project based learning (PBL).
Begitupula pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis industri teaching factory.
“Kalau kekurangan ruang belajar di SMK masih bisa diatasi karena setiap tahunnya, anak kelas dua belas melakukan PKL (Praktik Kerja Lapangan). Jadi, ruangan kelas bisa bergantian. Namun, untuk ruang praktik siswa, masih ada sekitar 60 persen SMK yang belum memiliki ruang praktik yang memadai,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin.
Pernyataan ini disampaikannya di Jakarta pada Selasa (12/5/2026).
Kekurangan RPS akan diatasi dengan program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Hal ini tidak hanya membangun ruangan.
Namun, ini juga ekosistem pendidikan yang mendorong transformasi pendidikan melalui lingkungan belajar yang nyaman dan aman.
Jadi, tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal dari sisi karakter dan output lulusan.
“Ruang praktik siswa yang memadai sangat penting, baik di SMK, SLB, maupun PKBM. Di SMK, ruang praktik ini bisa menjadi area pembelajaran bagi siswa sehingga mereka bisa mengetahui tujuan dan capaian dari pembelajaran yang mereka lakukan,” ujarnya.
Tatang Muttaqin mengemukakan pemerintah telah membangun dan merenovasi 1.008 RPS.
Langkah ini diharapkan mendukung transformasi SMK yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.
Dari jumlah ini sekitar 75 program keahlian, seperti RPS Teknik Sepeda Motor, dsn Teknik Kendaraan Ringan.
“Ruang praktik ini tidak akan sama persis dengan industri. Akan tetapi, ketika murid sudah menguasai dasar-dasar ilmu di ruang praktik ini, mereka akan lebih mudah saat beradaptasi di industri,” tuturnya.
Kemendikdasmen merevitalisasi 1.465 SMK pada 2025. Total sarana dan prasarana yang telah dibangun mencapai 7.586 unit.
Hal ini ruang kelas, ruang praktik siswa, perpustakaan, dan sarana prasarana pendukung lainnya, seperti toilet dan ruang guru.
Kepala SMKN 5 Kabupaten Tangerang, Surta Wijaya, merasakan manfaat revitalisasi sekolah untuk peningkatan keterampilan vokasional para muridnya.
Sebelumnha, sekolahnya tidak memiliki RPS sesuai kebutuhan Bahkan, sekolah terpaksa mengubah perpustakaan menjadi RPS untuk para murid.
“Sebelum revitalisasi, praktik siswa sering terkendala keterbatasan ruang dan fasilitas,” ujarnya.
Padahal, murid-murid di sekolahnya memiliki semangat dan potensi besar. Namun, lingkungan belajar dirasa belum sepenuhnya mampu menghadirkan suasana kerja industri yang sesungguhnya.
“Saat ini, siswa kami menjadi lebih antusias untuk belajar. Mereka merasa dihargai, dipercaya, dan dipersiapkan untuk menjadi tenaga profesional menengah dengan ruang praktik siswa yang memadai,” ucapnya.
Dengan RSP, SMKN 5 Kabupaten Tangerang menyediakan ruang praktik siswa untuk Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, serta rehabilitasi 42 ruang kelas.
“Kami merasa yang berubah bukan hanya gedungnya, tetapi juga masa depan anak-anak kami terasa menjadi lebih nyata,” ujarnya.
Kepala SMKN 5 Manokwari, Choiruddin mengemukakan sekolahnya menerima revitalisasi berupa pembangunan dan perbaikan tiga ruang kelas Teknik Konstruksi dan Properti (TKP).
Kemudian, empat ruang kelas Teknik Komputer dan Jaringan, empat ruang kelas Teknik Kendaraan Ringan, ruang praktik siswa (RPS) TKP beserta perabot, dan perpustakaan beserta perabot.
“Sekolah kami saat ini tidak hanya memiliki ruang praktik untuk siswa yang representatif, tetapi juga memiliki perpustakaan yang menjadi sumber belajar dan pusat aktivitas para siswa,” tuturnya.











