NASIONALNEWS.ID, Alor – Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan pemerintah berkomitmen mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langkah ini dilakukan melalui penguatan sektor pertanian secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.
“Pembangunan pertanian di Alor tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan.
Namun, ini juga menciptakan sumber pendapatan masyarakat secara jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Dengan begitu Kementan menyiapkan sedikitnya empat strategi utama yaitu memastikan ketersediaan dan keterjangkauan beras.
Kemudian, memperkuat produksi padi melalui benih dan sarana pertanian.
Selanjutnya, mengembangkan jagung dan membangun komoditas perkebunan yang dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dalam puluhan tahun ke depan.
“Tujuan utamanya pengatasan kemiskinan juga. Justru kemiskinan target kita,” ujarnya.
Andi Amran Sulaiman mengungkapkan strategi pertama dilakukan Kementan berupa penguatan pasokan dan stabilisasi harga beras.
Pemerintah memastikan ketersediaan beras di Alor, sehingga masyarakat tidak hanya menghadapi lonjakan harga.
“Selain itu memastikan stok beras tersedia di gudang dan meminta Perum Bulog menjaga agar tidak terjadi kekosongan stok di wilayahnya,” ujarnya.
Harga beras di Alor juga diarahkan agar berada pada tingkat yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta.
“Beras sudah aman, ada di gudang-gudang sekarang. Harga itu 13 ribu rupiah, sama dengan harga Jakarta,” ucapnya.
Andi Amran Sulaiman meneruskan stabilisasi harga merupakan langkah yang harus segera dilakukan negara.
Pasalnya, kebutuhan pangan masyarakat tidak dapat menunggu program jangka menengah maupun jangka panjang.
“Jangka hari ini, beras harus harga seperti Jakarta,” tuturnya.
Badan Urusan Logistik (Bulog) memperkuat operasi pasar di daerah yang membutuhkan beras.
Stok yang tersedia justru harus segera disalurkan kepada masyarakat apabila terjadi tekanan harga.
“Tidak boleh lagi terjadi kondisi ketika harga beras di masyarakat melonjak sangat tinggi,” ucapnya.
Andi Amran Sulaiman meminta Bulog bertanggung jawab menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras.
“Tidak boleh ada cerita harga beras 25 ribu rupiah dan 17 ribu rupiah. Jangan sampai lagi harga seperti itu,” ujarnya.
Pemerintah memiliki stok beras yang sangat kuat. Bahkan, stok beras nasional berada pada posisi tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.
“Sekarang aman. Kita punya lima juta ton dan kapasitas gudang tiga juta ton. Stok kita berlebih,” ujarnya.
Strategi kedua diarahkan pada peningkatan produksi pangan masyarakat melalui dukungan benih padi, alat dan mesin pertanian (alsintan), pompa, dan berbagai sarana produksi lainnya.
Andi Amran Sulaiman meminta dukungan pengembangan lahan pertanian.
Jika sebelumnya masyarakat mengusulkan pembukaan atau pengembangan sekitar 1.000 hektare, pemerintah justru memberikan dukungan hingga 3.000 hektare.
“Yang jarak pendek adalah, Benih padi tadi yang minta itu satu hektar. Nah, aku kasih dua ribu, malah tiga ribu hektar. Mana tadi yang minta satu hektar? Ketua Kelompok Tani minta satu hektar. Nah, kita kasih tiga ribu,” ujarnya.
Dukungan ini akan diperkuat dengan benih dan sarana pertanian agar lahan yang dikembangkan dapat segera menghasilkan.
Hasilnya dapat dirasakan masyarakat dalam waktu relatif singkat.
“Kita beri benih, alsintan, pompa, dan macam-macam. Ini tiga bulan sudah panen. Ya kan? empat bulan lah,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, ujar Andi Amran Sulaiman, intervensi pemerintah tidak berhenti pada bantuan lahan dan input produksi.
“Namun, ini diarahkan hingga menghasilkan panen dan pendapatan bagi petani,” tuturnya.
Strategi ketiga untuk jangka menengah adalah pengembangan komoditas jagung.
Pemerintah juga telah menyiapkan pengembangan jagung seluas 3.000 hektare di Alor.
“Kemudian jagung. Tadi sudah ada 3 ribu hektar. Jagung 3 ribu tadi ya. Ini menengah,” ujarnya.
Andi Amran Sulaiman mengemukakan pengembangan jagung diposisikan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi pertanian jangka menengah.
Komoditas ini diharapkan dapat memperluas pilihan usaha masyarakat dan meningkatkan produktivitas lahan yang tersedia di Alor.
Pengembangan jagung diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Hal ini didukung benih, sarana produksi, alsintan dan pendampingan.
Strategi keempat merupakan strategi jangka panjang melalui pengembangan komoditas perkebunan.
Hal ini sesuai karakteristik dan potensi wilayah Alor, seperti kakao, jambu mete, dan kelapa.
“Komoditas tersebut memiliki nilai strategis, karena dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dalam jangka panjang,” ucapnya.
Andi Amran Sulaiman mengungkapkan tanaman perkebunan tidak hanya memberikan manfaat ketika mulai berproduksi, tetapi dapat menopang ekonomi keluarga petani selama puluhan tahun.
“Jangka panjang adalah ini. Sudah tumbuh. Ini masa depannya Alor. Kakao ini. Ini menteh, ada kakao, ada kelapa,” ujarnya.
Tanaman ini telah menunjukkan pertumbuhan yang baik dan dinilai sesuai dengan kondisi Alor.
Karena itu, pengembangan perkebunan menjadi investasi pertanian yang manfaatnya dirancang untuk diwariskan hingga generasi berikutnya.
“Ini bisa bertahan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat Alor sampai 30 tahun. Tujuan utamanya pengatasan kemiskinan juga,” ucapnya.
Andi Amran Sulaiman mengemukakan komoditas perkebunan memiliki karakter berbeda dengan tanaman pangan yang dapat dipanen dalam hitungan bulan.
Misalnya, kakao membutuhkan waktu lebih panjang untuk mulai menghasilkan, namun dapat menjadi sumber pendapatan dalam jangka panjang.
Begitupula jambu mete yang dinilai sesuai karakteristik wilayah Alor.
“Kalau ini 2,5 tahun berbuah. Mente juga, ini cocok dengan mente. Begitu berbuah, itu bisa panen 40 tahun. Terus mente. Kalau ini 20–30 tahun,” ujarnya.
Andi Amran Sulaiman mengutarakan pemerintah membangun ekosistem pertanian Alor secara berlapis melalui empat strategi tersebut.
Kebutuhan masyarakat hari ini dipastikan melalui ketersediaan beras dan stabilisasi harga.
“Dalam hitungan bulan, pendapatan petani didorong melalui produksi padi dengan dukungan benih dan sarana pertanian,” ujarnya.
Selanjutnya, jagung dikembangkan sebagai pengungkit ekonomi jangka menengah.
Berikutnya kakao, jambu mete, dan kelapa disiapkan sebagai fondasi ekonomi masyarakat untuk puluhan tahun ke depan.
Andi Amran Sulaiman menilai pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjadikan pertanian sebagai instrumen nyata.
Hal ini untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menurunkan kemiskinan di Alor.
“Alor ini makmur ke depan,” ujarnya.






