NASIONALNEWS.ID, DEPOK – TEKNOLOGI telah mempengaruhi banyak segmen kehidupan, hal ini bermula pada saat wabah covid-19 beberapa tahun yang lalu mampu mengubah perilaku dalam pemanfaatan teknologi yang begitu pesat, perkembangan teknologi yang dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan, termasuk bisnis, politik, budaya, seni, dan bahkan pendidikan.
Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan ini karena, kemajuan teknologi selalu diiringi dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
Hadirnya teknologi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia menjadi topik yang semakin penting dan relevan di era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.
Seiring dengan kemajuan teknologi yang pesat, pendidikan di Indonesia juga mengalami perubahan signifikan. Pemanfaatan teknologi dalam konteks pendidikan telah membuka peluang baru dan tantangan yang serius.
Salah satu permasalahan yang paling mendasar dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu aksesibilitas untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara yang dijamin UUD1945.

Banyaknya anak-anak dengan hambatan belum dapat menikmati Pendidikan yang layak, belum lagi berbagai kita. Mulai dari sarana prasarana yang tidak layak, kualitas SDM yang rendah, sumber belajar yang terbatas, berbagai konflik dalam pelaksanaan untuk meningkatkan mutu Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Diantara permasalahan tersebut adalah realitas karena, masih banyaknya anak berkebutuhan khusus yang dikategorikan mempunyai keterbatasan fisik maupun mental yang tidak mendapatkan pendidikan dan pengajaran sebagaimana yang dijalankan oleh anak-anak pada umumnya, meskipun sebenarnya sudah ada fasilitas pendidikan yang khusus yaitu sekolah luar biasa ( SLB).
Penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus yang kapasitasnya juga terbatas walaupun pemerintah telah menyediakan fasilitas pendidikan yang khusus untuk anak berkebutuhan khusus disebut dengan SLB. Namun, hal ini masih dianggap belumlah layak mereka bisa berkompetisi dengan anak-anak yang tidak memiliki hambatan.
Kondisi yang sangat mencolok antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal pada umum nya, hal tersebut menjadi penghambat dalam berinteraksi di antara mereka (Indah & Malahayati, 2015).
Pada abad 21 teknologi menjadi suatu media yang sangat konvensional di dunia, terlebih dengan teknologi yang semakin maju diantaranya adalah internet.

Internet merupakan jaringan komputer yang menghubungkan komputer di seluruh dunia dengan informasi dan dalam berbagai bentuk dapat dikomunikasikan di seluruh dunia. Tetapi hal ini belum berlaku secara menyeluruh bagi peserta didik berkebutuhan khusus, mereka masih jauh dalam kategori yang dapat menikmati Kemajuan teknologi terutama bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Salah satu indikator utama dalam mengukur akses teknologi bagi peserta didik berkebutuhan khusus adalah kepemilikan telepon genggam dan penggunaan internet.
Sayangnya, data menunjukkan bahwa akses ini masih peserta didik regular banyak mengalami perubahan pada tatanan hidup di tengah masyarakat, baik dalam segi pembelajaran, interaksi, dan lainnya. Sehingga berdampak sangat signifikan akan perkembangan ilmu pengetahuan disertai dengan perkembangan teknologi dan informasi mengalami krisis moral, dimana pengaruh budaya asing yang sudah masuk melalui sosial media atau internet.
Jika budaya asing sesuai dengan pandangan bangsa Indonesia khususnya para anak remaja yang masih berada di bangku sekolah yang mudah terjerumus.
Dengan begitu pembinaan moral atau karakter harus lebih ditingkatkan lagi, supaya karakter dan jati diri bangsa indonesia khususnya peserta didik tidak hilang oleh teknologi.

Profil Pelajar Pancasila adalah pokok yang menjadi dasar acuan untuk membentuk karakter bangsa.
Profil Pelajar Pancasila merupakan ciri karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila.
Di dunia yang sudah serba canggih ini, teknologi kemudian hadir sebagai alat yang dapat memudahkan segala aktivitas kehidupan manusia. Bahkan sebagian manusia hampir menjadikan teknologi sebagai suatu kebutuhan dan menjadi ketergantungan.
Dengan adanya kemajuan teknologi ini banyak orang yang tidak mampu memanage penggunaan teknologi tersebut, seperti dalam penggunaan gawai (gadget), penggunaan teknologi berupa perangkat elektronik ini berpengaruh pada perilaku dan karakter seseorang. Seperti berubahnya perilaku seseorang yang cenderung lebih apatis.

Untuk seorang dewasa saja yang sudah mengerti apa itu teknologi masih salah dalam penggunaannya, apalagi peserta didik berkebutuhan khusus yang masih perlu pendampingan ketika menggunakan teknologi ini.
Penggunaan teknologi di sekolah luar biasa merupakan tantangan bagi seorang guru agar lebih banyak menggunakan strategi dan metode pembelajaran sehingga dapat memahamkan kepada peserta didiknya, terutama dalam kegiatan Asesmen Nasional Berbasis Kompetisi (AMBK) yang menggunakan perangkat teknologi yang penyediaan disekolah-sekolah luar biasa – terutama di swasta – masih terbatas.
Penggunaan teknologi di Sekolah Luar Biasa merupakan tantangan bagi pendidik agar peserta didik dengan hambatan mampu memahami dan dengan bimbingan yang sabar , mampu membuat mereka merasa nyaman dan juga merasa mereka mempunyai hak yang sama seperti anak yang tidak memiliki hambatan. Keterbatasan karena hambatan tertentu yang dialami anak berkebutuhan khusus tentu membutuhkan alat bantu teknologi adaptif, teknologi yang bisa memberikan akses computer dan teknologi informasi.
Terdapat beberapa teknologi adaptif yang sangat penting yaitu, NVDA (Akses Desktop NonVisual), JAWS (Akses Pekerjaan dengan Ucapan), I-Chat (saya dapat mendengar dan berbicara).
Dengan adanya teknologi tersebut diharapkan peserta didik berkebutuhan khusus dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah, aman, dan mandiri.
Dan penggunaan berbagai aplikasi yang mendukung pembelajaran mereka seperti aplikasi canva, zoom, ataupun g-meet.
Dari hal di atas diperlukannya dorongan dari pemangku kepentingan untuk meningkatkan perkembangan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik berkebutuhan khusus supaya akses yang mereka dapati tidak jauh berbeda dengan peserta didik regular, perlunya kebijakan-kebijakan yang harus di tindak lanjuti agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan kepada seluruh peserta didik berkebutuhan khusus terutama dalam meningkatkan pembelajaran vokasional sebagai bentuk mereka dapat kelak hidup lebih mandiri.
Oleh Aam Amalia, S.Pd, Gr Kepala Sekolah SLB Budi Lestari, Sukatani, Tapos, Depok, Jabar






