NASIONALNEWS.ID, SLEMAN – Ustadzah Mumpuni Handayayekti mengajak masyarakat untuk mensyukuri kebebasan beribadah yang dinikmati di Indonesia.
Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi pengajian memperingati 1.000 hari wafat Almarhum H Purwanto Sudiro di Dusun Sanggrahan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (22/7) malam.
Dalam tausiyahnya, pendakwah asal Cilacap yang dikenal dengan logat ngapak itu menyinggung kondisi sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong yang disebut menghadapi keterbatasan waktu dan tempat untuk menjalankan ibadah.
“Walau negara kita memang kadang terasa carut-marut, kita tetap harus bersyukur karena bisa menjalankan ibadah dengan leluasa. Tidak seperti sebagian TKW yang harus sembunyi-sembunyi saat beribadah,” ujar Ustadzah Mumpuni.
Ia mengaku memperoleh cerita tersebut ketika memenuhi undangan ceramah komunitas PMI di Hong Kong beberapa waktu lalu.
Menurut pengakuan sejumlah pekerja migran, mereka terkadang menunaikan salat di ruang yang sangat terbatas, bahkan di area toilet.
“Namun jangan disamakan dengan toilet di sini, kondisinya berbeda,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan sebagai ajakan agar masyarakat lebih menghargai kebebasan menjalankan ibadah yang dijamin di Indonesia.
Meski demikian, perlu diketahui bahwa Hong Kong secara hukum menjamin kebebasan beragama melalui Basic Law dengan prinsip One Country, Two Systems.
Tantangan yang dihadapi sebagian pekerja migran umumnya lebih berkaitan dengan keterbatasan waktu kerja dan kondisi pekerjaan, bukan larangan resmi untuk beribadah.
Hong Kong hingga kini juga masih menjadi salah satu tujuan utama penempatan Pekerja Migran Indonesia dengan jumlah pekerja aktif mencapai lebih dari 99 ribu orang.
Pengajian tersebut turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Condongcatur Budiarto, Kepala Kalurahan Sinduharjo Sudarja, Forkopimkap, serta tokoh masyarakat setempat.
Acara berlangsung khidmat dengan diikuti ratusan jamaah yang memadati lokasi pengajian. (Ridar)











