Jembatan Bokwedi Dipatok Rampung Oktober 2026, Kementerian PU: Bisa Difungsikan Sebelum Nataru Tahun Ini

oleh -
img 20260517 wa0358

NASIONALNEWS.ID, Pasuruan – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan konstruksi Jembatan Bokwedi di Pasuruan, Jawa Timur (Jatim) rampung pada September hingga Oktober 2026.

Jadi, jembatan ini bisa difungsionalkan sebelum periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

“Ini penanganannya sebenarnya cepat, hanya sekitar empat sampai lima bulan perkiraan. Insyaallah Nataru 2026 sudah bisa dilewati, dan sudah fungsional,” kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo.

Pernyataan ini disampaikannya saat meninjau pembangunan Jembatan Bokwedi di Kota Pasuruan pada Ahad (17/5/2026).

Langkah ini untuk memastikan kesiapan pekerjaan penggantian jembatannya dan meningkatkan kapasitas aliran sungai dan mendukung konektivitas kawasan.

Dody Hanggodo mengemukakan pembangunan Jembatan Bokwedi dilakukan dengan menaikkan elevasi jembatan.

Langkah ini untuk mengantisipasi meluapnya air sungai saat terjadi hujan deras di wilayah hulu.

Kondisi sungai mulai menyempit dan mendangkal menjadi salah satu faktor yang menyebabkan air meluber hingga ke badan jalan.

“Kalau jembatan dan rel kereta api tidak ditinggikan, takutnya air akan semakin meluber ke sini,” ujarnya.

“Kita berusaha menghindari itu dengan cara jembatan kita tinggikan sehingga air tetap mengalir ke hilir.”

Pekerjaan penggantian Jembatan Bokwedi dilaksanakan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali.

Langkah ini dilakukan melalui kontrak tahun jamak 2025–2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp11,6 miliar.

Lingkup pekerjaan meliputi pembangunan pondasi borepile, abutmen jembatan, pemasangan struktur baja sepanjang 30 meter, plat lantai jembatan, perkerasan aspal, serta trotoar jembatan.

Jembatan ini dirancang untuk meningkatkan keamanan dan kelancaran lalu lintas di kawasan Kota Pasuruan.

Pembangunan Jembatan Bokwedi juga diharapkan dapat mendukung distribusi hasil pertanian, aktivitas perdagangan, dan pariwisata di wilayah Pasuruan dan sekitarnya.

Penanganan dilakukan tidak hanya pada struktur jembatan, ucap Dody Hanggodo, tetapi juga melalui koordinasi dengan berbagai pihak termasuk Kereta Api Imdonesia (KAI).

Hal ini supaya elevasi jalur rel kereta api di sekitar lokasi dapat disesuaikan sehingga tidak lagi menghambat aliran air sungai saat debit meningkat.

“Kalau jembatan naik dan rel kereta naik, Insyaallah air tidak akan tertahan oleh jembatan maupun rel kereta,” tuturnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.